DEMETRIUS LUMIAN MANATIN
Peserta TSOM#3 – Keuskupan Jayapura
Menjadi Misionaris Sejak Remaja
Halo sobat Misioner !!!!!!
Ada pribahasa mengatakan, tak kenal maka tak sayang, karena hal itu perkenalkan saya Demetrius Lumian Manatin dari keusukupan Jayapura di Papua. Saya sendiri merupakan salah satu peserta dari T-SOM angkatan 3 di tahun 2023. Saya juga merupakan salah satu anak yang terpilih dari Parokiku, bersama juga dengan teman-temanku, yaitu Eksa, Anna dan Eta. Adapun 2 kakak pendamping, yaitu kakak Gima atau lebih di kenal dengan kak G dan Bunda Sari, ibunya Eksa, tidak lupa juga Dirdios kami yaitu Pastor/Romo Cleo. Dari awal Januari hingga Desember, saya telah mempelajari banyak hal di T-SOM ini, seperti bagaimana cara menjalin pertemanan atau persahabatan dengan orang baru, lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, dan bersosialisasi dengan masyarakat.
Hal-hal tersebut tentunya saya dapatkan dan pelajari dari T-SOM. Tapi sebelum lanjut, saya akan menjelaskan sedikit tentang apa sih itu T-SOM??? Teens School Of Mission atau lebih di kenal sebagai T-SOM merupakan sekolah misi remaja anak-anak Khatolik. T-SOM sendiri terbentuk dari Jamnas SEKAMI di Pontianak, Kalimantan Barat. Tujuan dari T-SOM untuk menjadi seorang Misionaris yang mampu membawa kabar sukacita ke pelosok yang tidak dapat di jangkau oleh banyak orang. Karena itu beberapa anak dari keuskupan, di pilih untuk masuk ke dalam Teens School Of Mision atau T-SOM agak mampu mrmbawa kabar sukacita dengan motonya 2D2K (Doa, Derma, Kurban, Kesaksian). Pada T-SOM 3 ini, di ikuti 14 Keuskupan seIndonesia. Yaitu Keuskupan Jayapura, Amboina, Makassar, Manado, Tanjung Selor, Sintang, Palangka Raya, Semarang, Surabaya, Bandung, Pangkal Pinang, Medan, Palembang dan juga Padang.
Dari 14 Keuskupan, kami melakukan 4 pertemuan. Yaitu di Surabaya, Muntilan, Makassar dan juga Padang. Apa saja sih yang saya dapat dari 4 pertemuan itu. Saya mau menjelaskan apa saja yang saya dapatkan selama 4 kali pertemuan itu.
SURABAYA FRIENDSHIP
Pertemuan pertama yang kami lakukan yaitu di Surabaya, di Jawa Timur pada tanggal 17-19 Februari. Pertemuan ini merupakan pertemuan pertamanya para anggota T-SOM, mulai dari para peserta, kakak pendamping dan juga para dirdios berkumpul. Ada musibah yang menimpah kami para anggota Keuskupan Jayapura, yaitukami delay sekitar 3 jam di Bandara Sentani. Karena hal itu kamu sangat terlambat menuju Surabaya, yang harusnya kamu sudah tiba di Surabaya Jam 2/3 siang. Tapi kami tiba sekitar jam 9 malam, dengan hal itu kami belum sempat berkenalan sama teman2, kakak-kakak juga para dirdios. Saat tiba di tempatnya, kami di persilahkan dulu untuk makan dan minum. Awalnya saya kira kita langsung tidur karena capek, tapi ternyata kami langsung mengikuti kegiatan. Di kegiatan itu, sedang lagi belajar dari materi yang di bawakan Dirdiosnya Keuskupan Palembang, yaitu Romo Sigit. Kami masuk di pertengahan antara tengah pematerian dan juga penutup, sehingga kami tidak terlalu mengerti apa yang di pelajari. Walaupun begitu saya sempat melihat dan mendengar, bahwa Romo bertanya random pada peserta T-SOM tentang bayangan kamu itu seperti apa. Ada peserta yang bilang dia apii, karena semangatnya berkobar-kobar, ada yang bilang dia air karena dia sangat tenang dan bisa mengikuti segala alur dll. Dari situ saya menganggap bahwa pematerian mereka itu berkaitan sama sifat dasar diri kita sendiri.
Sekitar jam 10, kami di suruh balik kamar untuk beristirahat. Kami pun ke kamar, di situ kamu di tunjukkan kamar laki-laki, saat sampai di kawasan kamar laki-laki, kami di sambut oleh peserta-peserta lain. Yang pertama kali sambut kami yaitu Natanael atau panggilannya Nael, dari Keuskupan Padang, di sambung dari Bryan dari Keuskupan Agung Makassar dan di lanjutkan oleh Tegar dari Keuskupan Manado juga Oka dari Keuskupan Sintang. Ternyata aku dan Eksa beda kamar, kamar eksa di pertengahan antara kamar ujung dan kamar ku yang berada di samping wc. Di dalam kamarku, ada 4 ranjang dan di situ saya sekamar bersama, Oka, Gerardo dari Keuskupan Medan dan Xavier dari PangkalPinang. Sebenarnya kami di suruh buat refleksi sebelum tidur, tapi kami berkumpul di teras dan membuat meja kotak sambil membuat refleksi, di situ kami juga berbincang dan bercanda. Sehingga bentuklah BoysT-SOM dan juga konverensi meja bundar. Tidak lama setelah itu kami pun tidur.
Pada Surabaya Friendship ini terbentuk persahabat, yang awalnya engga kenal, tetapi seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Surabaya Friendship mengajarkan saya untuk bisa akrab dan menjadi pertemanan maupun persahabatan dengan orang baru, tanpa memandangnya suku, ras, budaya dll.
MUNTILAN PRAYER
Tanggal 1-3 Juli, kami para anggota T-SOM berkumpul di Muntilan, di Jawa Tengah. Tema pada pertemuan kedua ini yaitu Muntilan Prayer, apa yang di maksud dengan Prayer? Prayer sendiri dalam bahasa Indonesia berarti Berdoa. Dalam Muntilan Prayer ini, kami di ajarkan bagaimana kami bisa berkomunikasi atau lebih dekat dengan Tuhan, dengan cara berdoa juga membaca alkitab. Adapun kita mengambil satu kalimat dari alkitab untuk di jadikan pedoman hidup kita. Bagaimana sih cafa menentukan kalimat yang tepat? Kami di ajarkan cara menentukan kalimat pedoman dari alkitab dengan 1 metode yaitu metode TAT. Apa itu TAT? TAT adalah singkatan dari Teks, Amanat dan Tanggapan. Ada pun cara menggunakan metode ini, yakni :
1. Membaca teks alkitab di suatu injil yang di inginkan.
2. Baca dan kemudian pahami tentang apa dikatakan Tuhan kepada ku.
3. Setelah itu, apa yang harus saya lakukan bila saya memilih kalimat ini.
Itu langkah-langkah dalam menggunakan metode TAT.
Di Muntilan ini juga, saya belajar bahwa refleksi itu penting, karena refleksi adalah dasarnya para T-SOM. Oleh sebab itu, refleksi harus selalu di buat karena tanpa adanya refleksi maka dasar, fondasinya T-SOM tidak ada. Setelah mengikuti T-SOM di Muntilan ini, kami melanjutkan ke JAMNAS atau Jambore Nasional. Saya dan teman-teman lain sangat senang dan merasa terhormat karena bisa ikut dalam JAMNAS yang di adakan setiap 5 tahun sekali. Terakhir kali, JAMNAS berada di Pontianak pada tahun 2018, dan pada tahun itu juga Teens School Of Mission terbentuk.
Selama saya mengikuti JAMNAS, saya dapat melihat betapa ramainya, banyaknya anak-anak, perwakilan dari setiap Keuskupan. Berhubung JAMNAS ini di laksanakan di Mertoyudan, Magelang, di Jawa Tengah, jadi jarak kami cukup dekat. JAMNAS sendiri berbeda dengan T-SOM yaitu lebih banyak teman-teman, tapi perbedaan itu yang justru, kenangan tidak terlupakan. Saya belajar tentang banyak hal, seperti budaya lokal, menghargai satu sama lain, saling berbagi dan mempelajari bahasa lain. Karena hal itu saya sangat senang.
Setelah pulang dari JAMNAS, kami para T-SOM dan para JAMNAS dari Keuskupan Jayapura, belum langsung pulang, karena masih ingin menikmati suasana di Jawa. Walaupun begitu saya memiliki pengalaman buruk, di mana saya dan Eksa, jatuh sakit setelah selesai JAMNAS. Ketika waktu JAMNAS pergi ke tempat wisata, saya mengikuti eksa, untuk tinggal di rumahnya yang di Jogja. Di rumah Eksa, saya lebih senang karena ternyata lingkungan rumah Eksa sunyi sehingga tidak ribut, rumahnya juga begitu bersih karena ada kakak Eksa yang tinggal di situ. Selama saya di rumah Eksa, saya dapat beristirahat dengan tenang tanpa gangguan sama sekali, sehingga saya dapat pulih.
Di pertemuan T-SOM ke 2 ini, saya mendapatkan pelajaran, bahwa saya harus mandiri. Menjaga diri dan kesehatan sebaik mungkin, karena saya jauh dari keluarga, dan tidak ingin membuat keluarga saya panik dengan keadaan saya. Kita juga harus sediakan obat-obatan pribadi agak bisa mencegah atau menyembuhkan sakit kita. Bila kita sedang mengalami kesulitan, maka jangan sungkan untuk meminta tolong pada orang lain atau teman-teman kita.
MAKASSAR ACTION
Pertemuan kami yang ketiga ini, berada di Makassar di Sulawesi Selatan. Pada pertemuan kami ini, kami akan berinteraksi, bersosialisasi dengan masyarakat, oleh sebab itu tema yang di ambil pada pertemuan ketiga kami ini, yaitu Makassar Action. Bagaimana cara kami berinteraksi dan bersosialisasi kepada masyarakat?
Cara kami yaitu dengan terjun langsung ke dunia pekerjaan, dimana itu lah cara kami untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Dengan ikut terjun ke dunia pekerjaan, kami dapat belajar untuk saling menghargai dan menghormati agama satu sama lain, menghargai dan menepati waktu, serta dapat merasakan dunia yang di rasakan orang dewasa lainnya. Jujur, saya ini anak manja apa lagi kepada Ibu saya. Sejak kecil saya sangat manja kepada Ibu saya, ada pun cerita masa kecilku yang kalau saya ingat, membuat saya terasa maluu banget.
Jadi dulu saat sama masih kelas 2 SD, saya masih sangat manja kepada Ibu, karena hal itu saya selalu di suap sama Ibu saya. Pada hari itu Ibu saya pulang dari kantornya jam 6 atau 7 malam, sedangkan saya pulang sekolah jam 12 siang. Saya menunggu Ibu saya untuk di suap, karena saya tidak tau kalau Ibu saya akan pulang lama, di jam 4 atau 5 sore, saya sudah mulai merengek pada kakak saya, saya berkata “kak, Ibu masih lama pulqng kah ? Saya sdh lapar” Kakak saya pun marah pada saya, katanya “kamu ini sudah mulai besar, sudah kelas 2 SD, harusnya kamu makan sendiri dan tidak perlu di suap lagi seperti kamu masih anak tk dulu”, walaupun saya telah mendengar hal itu, saya merengek dan menangis. Akhrinya kakak saya menelpon Ibu, dan di jam 6 atau 7 malam, ibu sudah pulang dan menyuap saya tanpa memarahi saya.
Dari hal itu saya belajar untuk mandiri, pada awalnya Adam di ciptakan seorang diri, tetapi karena dia tidak bisa hidup sendirian, maka Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam supaya mereka bisa hidup saling berdampingan. Walaupun begitu ada saat di mana kita harus bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain, supaya kita dapat belajar. Selain belajar mandiri, saya juga harus belajar sopan santun dan menghargai orang, serta sadar diri. Sejak saya kecil saya hidup dengan bantuan dari orang tua saya. Mereka banting tulang untuk saya dan kakak-kakak saya, segala cara dilakukan agar hidup kami selalu enak. Tetapi saya selalu bersikap tidak sopan, entah saya ataupun kakak saya, selalu melawan orangtua, sehingga pasti orangtua merasa sedih. Kami tidak sadar, kami melakukan hal-hal negatif seperti itu kepada orang tua kami sendiri, seolah-olah kami lah yang telah mrmbanting tulang, kerja keras buat orang tua kami, padahal secara nyata mereka lah yang bekerja keras untuk kami. Maka dengan saya mengikuti T-SOM ini, saya harap dapat merubah sikap saya, dari yang pemalas, tukang manja, cengeng, pemarah, pemalu dan hal-hal buruk lainnya menjadi lebih baik. Saya juga bisa bersikap lebih sopan, menghargai orangtua juga bisa lebih sadar diri.
Bagi kalian para calon Misioner, pasti kalian pernah atau selalu berbuat salah dan dosa pada teman, sahabat terutama pada keluarga dan orang tua kalian. Tidak terlambat untuk kalian memina maaf pada mereka, dan bertobat pada Tuhan, karena Tuhan selalu mengampuni kesalahan kita mau itu yang besar ataupun yang kecil. Kalian juga harus bisa lebih sadar diri dan lebih bisa menghargai orang, tempat dan waktu. Supaya kalian tidak di pandang buruk sama siapapun itu, karena di zaman sekarang segala tindakan akan menentukan bagaimana orang melihat dirimu sendiri.
MENTAWAI PILGRIMAGE
Mentawai merupakan kepulauan di Padang, Sumatra Barat. Pertama kali saya pergi ke Sumatra, dan saya mengetahui bahwa, Padang itu sangat-sangat mayoritas islam. Menurut Nael, sang tuan rumah berkata, di Padang itu memang mayoritas islam, bahkan gereja kristen yang ada di Padang hanya 7. Saya cukup terkejut karena berbeda sekali dengan apa yang saya liat di Papua. Kita yang dari papua, mayoritas Kristen, tetap yang berada di kota Jayapura hingga Kabupaten Sentani, mayoritasnya yaitu Kristen dan Islam, walaupun begitu, ada juga agama Buddha, Hindu Konghucu, bahkan ada juga seorang atheis. Walaupun begitu, saya merasa biasa saja, karena selain Indonesia merupakan negara yang mayoritasnya Islam, kita sebagai anak-anak, harus bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Pada Mentawai Pilgrimage ini, saya juga dapat merasakan bagaimana kita yang berada di atas kapal, dari Padang menuju ke Mentawai. Menurut ku, menaiki kapal tidak lah membuat orang mual-mual, tetap ada beberapa faktor yang mendasarkan seseorang dapat mual di dalam kapal.
1. Karena dia makan terlalu kenyang
2. Karena kapal yang tertutup sehingga kurangnya udara yang masuk, di tambah lagi banyaknya orang yang berada di atas kapal
3. Ombak yang besar, sehingga guncangan kapal terlalu kuat
4. Karena bawaan dari dulu yang tidak bisa merasakan goncangan
Mengapa saya merasakan bahwa faktor ini merupakan penyebabnya? Karena saya sudah merasakannya. Pada saat perjalananku pulang dari Mentawai ke Padang, saya makan terlalu banyak hingga saya kekenyangan dan karena itu saya ingin mual. Tetap saya memfokuskan diri, dan duduk di luar kapal, untuk mendapatkan udara segar.
Pada mentawai kali ini merupakan pertemuan terakhir atau pertemuan ke 4 para anggota T-SOM 3. Kami pergi ke Mentawai untuk menjadi seorang Misionaris, yang mewartakan kabar sukacita bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa. Dalam tujuan kami yang menjadi seorang Misionaris ini, kami di bagi kelompok untuk berpisah dan mewartakan di setiap paroki masing-masing. Saya mendapatkan Paroki Saliguma yang berada di Siberut, yang merupakan satu dari Siberut dan Saibi. Ada juga teman-teman kelompok saya yaitu ada Nael, Adri dari Tanjung Selor, Lili dari Amboina dan juga Keyshaa dari Makassar, adapun kakak pendamping kami juga pastor yang hadir, yaitu kak Caroline dan Kak Leony dari Keuskupan Padang, kak Angel dari BN-KKI serta pastor kami, yaitu pastor Nando dari Makassar. Selama di Saliguma, kami di bimbing oleh kakak ketua OMK yaitu bang Andi.
Selama di sana, kami semua tinggal di rumah warga, dan saya tinggal di rumah bang Alberto atau panggilannya yaitu bang Berto. Ternyata abangnya bang berto adalah ketua OMK sebelum bang Andi, tapi abangnya bang berto menikah sehingga dia turun dari jabatannya. Dirumahnya bang Berto, saya di perlakukan sebagai tamu yang spesial, kenapa begitu? Setiap kali saya ingin membantu mereka dalam membereskan rumah, mereka selalu bilang jangan, awalnya saya kira mereka merasa tidak senang dengan saya, tapi pada hari terakhir mereka berkata bahwa mereka ingin memperlakukan saya secara khusus, karena yang datang ke rumah mereka merupakan orang yang sangat jauh, yaitu dari Papua menuju ke Sumatra, karena itu saya sangat terharu. Selama di Saliguma juga, kami benar-benar melakukan tugas kami yaitu menjadi seorang misionaris, kami menjadi pendamping sekami, mengajarkan mereka hal-hal baru, kami juga bertugas sebagai lektor dan pemazmur, kami sempatkan juga untuk mendoakan orang yang sakit dan hal yang paling menyenangkan yaitu kami menjadi seorang om pit. Yaaa, om pit yang mukanya, tangannya, kakinya dan badannya berwarna hitam. Dia merupakan temannya Sinterclas, beda dengan Sinterclas, om pit akan menangkap anak-anak nakal. Jadi jangan kalian menjadi anak-anak nakal yaa!!!!!!
Di Saliguma juga banyak hal yang kami lakukan bersama, seperti mandi sore bersama di aliran sungai, yang pada awalnya di bilang mancing, menaiki bukit untuk mendapatkan sinyal dan juga saya berjalan ke 4 rumah keluarga teman saya, untuk mendapatkan makanan gratis :). Maklum saya agak kurang tau diri, walaupun begitu saat pulang saya makan lagi. Entah kenapa, makanan desa lebih enak daripada makanan kota. Mungkin karena dulu saya suka pulang kampung yaaa ???
Setelah 3 hari dan 2 malam, kami semua, para T-SOM 3 berkumpul di asrama Maileppet, masih di Mentawai juga. Saat di sana, kami agak lumayan sedih, karena kami sdh berpisah dengan keluarga baru kami, juga tidak lama lagi kami akan lulus dan mungkin tidak bertemu lagi. Di Maileppet, kami bercerita bersama bapak Uskup Padang yaitu Mgr. Vitus Rubianto Solichin tentang pengalaman kami di paroki masing-masing, juga pengalaman kami dari pertemuan 1 sampai ke hari ini juga. Setelah itu kami misaa penutup, dan hal yang tidak terdugaa yaitu saya menjadi petugas mazmur. Jujur, di paroki saya sendiri yang di Jayapura, saya tidak pernah menjadi lektor maupun pemazmur, tetap di asrama Maileppet, saya menjadi pemazmur yang kedua kalinya, pertama kali saya menjadi pemazmur itu di Saliguma saat tanggal 26. Perasaan saya saat menjadi pemazmur cukup gugup, tapi dengan itu saya belajar bahwa saya pasti bisa walaupun saya belum pernah sama sekali mencobanya. Setelah misaa, kami di panggil untuk menerima sertifikat, dan kemudian kami menonton video kilas balik kami di paroki masing-masing. Setelah itu kami melakukan sesi foto bersama supaya kenangan kami tidak terlupakan.
Esok harinya, kami menuju ke pantai Masilok yang berada di tengah laut. Jujur baru pertama kali mandi di pantai yang pulaunya berada di tengah laut. Disitu ternyata ada ubur-ubur kecil dan saya juga di sengat, rasanya itu nyeri-nyeri gatal. Untung teman saya Tegar dari Manado, menggosokkan pasir ke area yang terkena, sehingga rasa sakitnya berkurang. Setelah mandipun, saya ternyata jatuh sakit, karena terlalu lama mandi juga mandi tanpa baju. Karena itu juga kulit saya semakin gelap, dan saya sedih. Tapi saat kembali ke asrama, saya merasa bugar mungkin karena air laut mengatakan, ” Hei, kamu sakit yaa? Yaudah mari aku sembuhkan ” Hehehehehe. Mungkin karena Tuhan sudah mengabulkan doa saya agar saya cepat sembuh.
Teman-teman yang terkasih, demikian pengalaman saya selama mengikuti T-SOM Angkatan 3 ini, banyak hal yang saya pelajari dan juga yang merubah saya menjadi lebih baik. Kita harus terlibat dalam kegiatan positif, karena dengan itu kita dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. T-SOM ini merupakan salah satu kegiatan positif Khatolik, yang selain merubah sifat lebih baik, iman kekatholikan juga menjadi lebih baik. Kalian tidak perlu takut ataupun malu, karena jika kalian merasakan hal seperti, kalian tidak bisa menjadi apa-apa, kalian akan tetap tinggal di zona merah. Maka mari kita keluar dari zona merah tapi dengan izin dari keluarga dan juga izin Tuhan.
Sebuah motivasi dari saya:
Kesempatan datang pada kita cuma sekali, bila memang kamu beruntung makan kesempatan dapat datang padamu berkali-kali lipat. Tapi menjadi seorang T-SOM hanya sekali. Ikutilah T-SOM karena dapat membantu mengubah hal burukmu menjadi lebih baik, juga menumbuhkan iman kekatholikkan. Setelah kamu mengikuti awal kegiatan, maka kamu juga akan mengikuti akhir kegiatan. Harus banyak hal yang di lakukan sebelum akhir, karena masa lalu adalah masa lalu, masa kini adalah masa kini dan masa depan adalah masa depan. Kita tidak bisa berpindah waktu, mau ke masa lalu ataupun masa depan tidak bisa. Oleh karena itu kita hanya bisa mengenang kenangan-kenangan yang telah di lalui, entah sendirian, bersama teman, sahabat, keluarga, orang baru ataupun diaaa seorang yang spesial bagi kita.
“hargailah waktu yang ada, lakukan yang terbaik karena semua yang berlalu adalah kenangan, dan pada akhirnya tidak bisa diulangi lagi”