Refleksi

Michael Satrio Wicaksono

Pendamping T-SoM#3 – KEUSKUPAN PADANG

Keluar dari Zona Nyaman

Perkenalkan namaku Michael Satrio Wicaksono, aku lahir di sebuah kota yang terkenal dengan cerita malin kundangnya, kota Padang. Aku lahir di bulan oktober pada tanggal 2 tahun 2004. Aku merupakan umat dari Paroki St. Fransiskus Asisi, Keuskupan Padang. Menjadi pendamping T-SOM bukan hal yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Untuk kami di Keuskupan Padang sangat asing dengan yang namanya T-SOM , aku pun tidak tau apa itu T-SOM . Saat pertama kali diajak oleh Dirdios kami yaitu Romo Alfonsus Widhi SX, untuk menjadi pendamping T-SOM tentunya banyak pertanyaan yang muncul. Apa itu T-SOM ? T-SOM ngapain aja? Pendamping apa aja tugasnya? Setelah Rm. Alfons menjelaskan T-SOM , akhirnya aku menjawab iya. Itu pun juga karena ada Mbak Paulin yang menjadi pendamping, dalam pikirku setidaknya ada orang yang kukenal.

Mulailah perjalanan kami Tim T-SOM Keuskupan Padang di pertemuan nasional pertama di Surabaya. Pada tanggal 17 Februari 2023 kami sampai di Resi Aloysi tempat pertemuan nasional dilaksanakan. Hal yang kurasakan saat pertama kali sampai di situ yaitu “bingung”, bingung harus ngapain? Ngobrol dengan siapa? Keadaannya saat itu masih sepi, belum banyak keuskupan yang datang. Dan sejauh mata memandang tidak ada pendamping cowok yang kelihatan, tentunya hal ini membuat aku semakin bingung untuk ngajak ngobrol siapa? Akhirnya aku ikut duduk dengan beberapa peserta T-SOM laki-laki di lantai dua. Hal yang paling aku ingat yaitu, saat bertemu dengan Lucky dari Sintang. Saat itu aku mengajak ngobrol Lucky dengan pertanyaan umum orang berkenalan tentunya, menanyakan nama, asal, umur. Dan hal lucu pun terjadi, Lucky menanyakan aku kelas berapa, dan aku menjawab “sudah kuliah” dia terkejut. Karena dia mengira aku merupakan salah satu peserta juga, aku hanya bisa tertawa saat itu.

Jujur pada pertemuan nasional pertama ini aku agak takut. Takut tidak bisa berbaur dengan pendamping lainnya. Karena pendamping cowok sangat sedikit, kami hanya ada 4 orang yaitu aku, kak Kenny, kak Ebit, dan kak Ge, selebihnya perempuan. Dan yang seumuran dengan ku pun tidak ada, perasaan ini yang membuatku agak takut untuk mengobrol karena khawatir pembicaraan ku tidak masuk dengan pendamping lainnya. Tapi melihat para peserta yang sudah ribut dan mulai bermain satu sama lain, aku pun jadi terdorong untuk mendekatkan diri dengan pendamping lainnya.

Saat melakukan kegiatan outbound merupakan momen dimana aku bisa cair dengan kakak-kakak pendamping yang lain. Yang seharusnya permainan tersebut ditujukan untuk para peserta, malah kami para pendamping yang terlihat sangat berambisi untuk menang. Melalui kegiatan outbound ini aku mulai menganalisa satu per satu para pendamping dari ke-14 keuskupan. Semua pendamping sangat terbuka saat di ajak bercerita. Kami banyak berbagi cerita tentang kondisi keuskupan kami masing-masing. Terkhusus kak Kenny dan kak ebit, karena mereka teman sekamarku. Jadi aku banyak bertanya dengan mereka. Dari sana aku bisa mendapat gambaran T-SOM ini seperti apa sebenarnya tujuannya. Pada pertemuan pertama ini aku banyak belajar pentingnya komunikasi dan berbagi cerita, melalui itu kita dapat menambah relasi dan ilmu serta pengalaman-pengalaman dari orang lain yang berguna bagi diri kita.

Pada pertemuan nasional kedua di muntilan, kami berangkat tanpa bapak kami, Romo Alfons sx yang harus mengikuti pertemuan Serikat Xaverian di Kongo. Awalnya ada sedikit rasa takut apakah aku bisa menjaga ketiga anak-anak kami ini. Tapi aku dan mbak Paulin akhirnya berani juga untuk pergi tanpa Romo Alfons. Pada pertemuan kedua ini ada satu perasaan yang muncul yaitu “rindu”. Karena pada pertemuan pertama sebelumnya di Surabaya yang sudah membuat kami dekat, sehingga untuk bertemu kembali di Muntilan ini suatu hal yang sangat di tunggu-tunggu. Baik saat bertemu dengan para peserta dan para pendamping. Saat berjumpa, kami langsung saling bercerita. Pertemuan kedua ini mempererat hubungan kami satu sama lain. Mulai muncul perasaan nyaman saat berada dekat mereka. Bahkan di hari pertama kami para pendamping mengobrol sangat lama, sampai-sampai larut malam. Untungnya saat itu Romo Yuyun ingin pulang, jadi kami ingat untuk berhenti. Mungkin kalua Romo Yuyun tidak bilang akan pulang, bisa-bisa kami ngobrol sampai subuh.

Pada pertemuan kedua ini, aku tergabung dalam kelompok Tiga dimana hanya aku sendiri pendamping dengan lima orang peserta. Jujur awalnya aku agak khawatir apakah bisa untuk ngawasin mereka, tapi ternyata kelompok ke-3 ini jadi cepat akrab denganku. Ega, Jojo, Hedva, Lucky, dan Eta. Mereka ber-5 lah yang menjadi peserta pertama yang dekat denganku. Jujur menjadi pendamping kelompok mereka sangat menyenangkan dan seru, karena mereka sangat cepat dan pintar, sehingga tidak susah untuk mengajarkan mereka materi kitab suci pada pertemuan kali ini. Dari mereka berlima aku belajar pentingnya kerjasama dan percaya diri. Kalau dipikir-pikir, lebih berani mereka untuk berbicara di depan orang banyak ketimbang aku. Jujur ingin sekali lagi rasanya sekelompok dengan mereka.

Pada pertemuan kedua ini kami banyak mengunjungi tempat-tempat yang bagus mulai dari museum misi muntilan, kerkof, bloro, dan gua maria sendang sono. Dari tempat-tempat tersebut yang paling berkesan yaitu saat ke kerkof. Di sana ada makam Romo Sandjaja, mendengarkan kisah Romo Sandjaja menyadarkanku akan pentingnya bersyukur akan keadaan saat ini. Dulu sangat susah dan banyak pertentangan jika kita umat katolik melakukan misa, sedangkan saat ini sudah sangat mudah dan bebas untuk misa. Itu pun kadang masih jarang untuk mengikuti misa. Dengan mendengar kisah dari Romo Sandjaja, membuatku berpikir dua kali jika muncul rasa malas ke gereja, dan pada saat itu jujur, aku sangat terharu mendengar ceritanya.

Sampailah pada pertemuan terakhir yaitu di Mentawai, aku sangat rindu dengan mereka semua karena pada pertemuan ketiga di Makasar aku tidak bisa ikut karena ada pratikum di kampus yang tidak bisa ditinggal. Selain rindu, aku juga sangat semangat, karena ini pertama kalinya aku ke Mentawai. Hal yang paling aku tunggu saat sampai di Mentawai yaitu pantainya. Di Mentawai aku ditugaskan untuk live in di Stasi Toloulaggo. Perjalanan ke stasi ini memakan waktu 1,5 jam menggunakan boat dari dermaga Maliepet. Saat perjalanan ke Toloulaggo kami menaiki boat yang ada penutupnya, tapi karena sudah penuh di dalam aku ke bagian di luar. Pikirku tidak apa, tidak ada bedanya, ternyata itu hal yang salah. Saat perahu mulai lepas dari pantai aku langsung basah kuyup terkena percikan ombak yang besar. Saat itu aku, vania dan kak sari yang berada di luar. Kami hanya bisa pasrah menerima air yang terciprat ke muka kami. Tapi perjalanan ke Toloulaggo sangat indah. Basah kami terbayarkan dengan kami mengejar sunset di laut dan pantai yang indah.

Kami sampai di Toloulaggo sekitar pukul 18.30 WIB, keadaan sudah gelap. Dan operator boat sempet kebingungan untuk merapat ke pantai. Karena tidak ada satupun umat yang kelihatan untuk menyambut kami. Kami pun saling bertanya-tanya apakah ini betul stasinya atau tidak? Saat merapat ke pantai kami betul-betul sendirian, dengan kondisi yang gelap, baju yang basah sudah seperti di acara “my trip my adventure” saja. Ternyata umat disana sudah menunggu kami dari jam 3 siang, karena kami tidak datang-datang mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.
Selama di Mentawai, saya menemukan banyak hal yang berbeda dengan situasi di Padang. Mulai dari kondisi dan kebiasaan orang di sana. Satu hal yang kusuka yaitu kebiasaan makan di stasi ini. Setiap rumah di Toloulaggo saat mau makan, mereka harus kumpul terlebih dahulu. Harus lengkap semua orang di rumah berkumpul baru boleh makan. Hal ini sangat jarang kutemukan di rumahku sendiri. Senang rasanya dapat makan bersama-sama, berbagi cerita, curhat dan tertawa bersama. Dan tentunya hidangan di rumahku sangat enak-enak. Jujur ini satu kenangan yang kurindukan dari Mentawai. Rombongan kami sangat diterima baik oleh umat Toloulaggo. Dari cerita umat di sana, sangat jarang mereka dapat merayakan natal dengan perayaan ekaristi setiap tahun. Tentunya ini dikarenakan kurangnya pastor dan kondisi geografis daerah siberut yang berjauh-jauhan.

Hal yang membuat tak kalah terkejutnya yaitu misa malam natalnya, yaitu jam 11 malam. Ini merupakan salah satu culture shock di Mentawai.

Hal yang paling berkesan lagi tentunya saat kami melaksanakan natal ceria dengan anak-anak BIA dan BIR disana. Mereka semua tampak senang dan menikmati kegiatan yang kami buat. Untuk anak BIR kami mengajak bermain roulete, semacam permainan kuis dan untuk anak BIA kami mengajak untuk membuat pohon natal mini yang sederhana. Yang membuat hati saya senang adalah mereka semua tampak menikmati dan senang mengikuti acara natal bersama kami. Saat anak-anak BIA di sana banyak meminta tolong kepadaku untuk membantu mereka membuat pohon natal mereka masing-masing. Melihat mereka tertawa gembira melihat hasil kerja mereka masing-masing, membuat hatiku tersentuh dan juga senang. Aku merasa tidak sia-sia kami datang untuk merayakan natal dengan mereka.

Hal yang paling membuat ku rindu dengan Mentawai sampai saat ini adalah anak-anak di Toloulaggo, pantainya yang indah, bersih, keramahan orang-orangnya, dan kebersamaan kita semua keluarga T-SOM Angkatan ke-3. Mulai dari para dirdios, tim KKI Padang, para peserta dan semua pendamping. Terimakasih kepada BN-KKI, kepada KKI Padang sudah memberikan aku kesempatan untuk berproses di kegiatan T-SOM kali ini. Banyak pengalaman dan ilmu yang kudapat dari kegiatan ini, semoga semua kebersamaan kita semua ilmu yang kita dapat tidak akan aku lupakan dan aku gunakan untuk membantu memajukan sekami di Parokiku. Semoga kenangan kita di Mentawai, akan selalu terukir di ingatan kita semua. Sampai ketemu dikemudian hari keluarga T-SOM #3.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”
Amsal 16 : 9

Tinggalkan komentar