Nicken – Pendamping TSOM#3 Keuskupan Pangkalpinang
Perjalanan Misi
Saya berpikir perjalanan misi adalah perjalanan yang menyenangkan. Saya dapat mengarungi banyak tempat dan bertemu dengan orang-orang baru. Saya juga mengalami ketakutan dalam perjalanan misi karena situasi dan kondisi tertentu kadang berbanding terbalik dengan ekspektasi saya. Bermisi berarti saya harus meninggalkan zona nyaman dan masuk dalam suasana baru dan terbatas. Saya tidur menggunakan AC, ketika bermisi harus menyesuaikan diri untuk tidak menggunakan AC bahkan kipas angin pun tidak ada. Saya yang biasanya selalu makan makanan enak, ketika bermisi harus makan apa adanya.
Saya sering berhadapan dengan orang yang memiliki pola keliru tentang perjalanan misi. Mereka selalu mengatakan misi itu menghabiskan banyak uang, misi itu adalah outing ke tempat rekerasi dan berfoya-foya. Pola pikir dan kritikan seperti ini kadang melemahkan semangat juang saya untuk bermisi. Namun, saya tetap memiliki keyakinan bahwa perjalanan misi dapat menempah kehidupan saya agar makin dewasa, terbuka, disiplin, tanggunjawab, tangguh dan misioner.
Saya mengikuti kursus misi selama sebulan via online yang diadakan oleh BN KKI. Pengalaman kursus ini sedikit mengutakan saya ketika ditunjuk menjadi pendamping T-SOM. Saya mengalami kebingungan ketika ditawarkan untuk mengikuti program T-SOM. Saya sendiri baru mendengar istilah T-SOM dan kemudian menjadi sebuah ketakutan besar adalah harus berkomitmen mengikuti program ini selama satu tahun. Saya yang awalnya takut dan ragu tetapi kemudian sangat mencintai T-SOM. Dalam program TSOM ini saya diajarkan banyak hal mulai dari pengetahuan iman, pembentukan karakter, membangun komunio sampai menjalin relasi keberagaman sosial. Melalui T-SOM saya belajar dari hal-hal yang kecil dan sederhana seperti mengenal dan mencintai diri, sampai hal-hal besar seperti menjaga dan membimbing para peserta T-SOM. Saya selalu merefleksikan kata bijak Ibu Theresa dari Kalkuta yang menjadi kekuatan saya, “Tidak semua orang dapat melakukan hal-hal besar, tetapi semua orang bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar”.
Aktivitas T-SOM membuat saya berjumpa dengan banyak orang, belajar bersama remaja, pendamping dan dirdios. Program T-SOM menguatkan saya untuk semakin mencintai perjalanan misi dan menjadi berkat bagi banyak orang. Pertemuan T-SOM selalu menorehkan kisah yang beragam. Surabaya Friendhsip, saya belajar membangun komunio untuk bermisi. Saya mengasah kemampuan saya untuk mengenal diri, mengenal sesama dan membangun kerjasama dalam persaudaraan. Pertemuan di Muntilan dengan tema Muntilan Prayer, saya melatih diri untuk berdoa, hening, membaca dan merenungkan Kitab Suci, serta menapaki jejak langkah para misionaris. Makassar Action, saya dapat belajar tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG) dan mengaplikasikan dalam kegiatan live in. Puncak pertemuaan nasioal (Pernas) T-SOM III berlangsung Mentawai dengan tema Mentawai pilgrimage. Perjalanan Mentawai adalah perjalanan misi untuk tinggal, hidup, dan berkarya bersama masyarakat Mentawai.
Kegiatan T-SOM bukan sekadar ajang perjumpaan dan bukan juga aksi jalan-jalan menghamburkan uang. T-SOM telah memberikan berkat dan membentuk remaja semakin cerdas, gembira, tangguh dan misioner. Melalui T-SOM ini saya dilatih menjadi pendamping yang baik untuk semua orang. Saya selalu mengingat pesan Yesus, ketika saya menjadi pendamping remaja T-SOM, “Ketika aku lapar, kamu memberikan aku makan, ketika aku sakit, kamu melawat aku, ketika aku seorang diri kamu menghibur aku, ketika aku tersesat kamu menuntun aku”
Empat Pernas T-SOM memiliki kisah masing-masing. Saya merasakan paling banyak tantangan dan harus terus mengucapkan syukur adalah Mentawai Pilgrimage. Meskipun saya tidak merayakan natal bersama keluarga, namun Tuhan menggantikan keluarga baru untuk saya. Saya merasa sukacita luar biasa merayakan Natal dengan keluarga baru di Stasi Tiop. Saya diterima dan dianggap seperti anak mereka sendiri. Saya banyak belajar dari keluarga Pak Mikhael mengenai kesederhanaan dan pelayanan di lingkungan gereja. Meskipun diterjang oleh gelombang namun tidak menyurutkan semangat saya untuk belajar dan membagi sukacita bersama mereka. Di Keluarga Pak Mikhael saya diajarkan untuk rela berkorban dalam tugas-tugas gereja, saling menjaga satu sama lain. Saya sangat bahagia dan bersyukur menjadi bagian dari T-SOM angkatan III ini.
Kata Mutiara
Dalam perjalanan misi akan banyak tantangannya, tetapi jika kamu menikmatinya dengan sukacita maka semua akan terasa lebih mudah untuk dihadapi, lakukan hal kecil dengan cinta yang besar agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang.